Jumat, 07 Agustus 2015

Room 2



(Aura)

Setelah berlarian dengan Akina menghindari pemanah misterius tadi siang, malam ini Ryo merenung di kamar dan membayangkan tentang kehidupannya yang damai sebentar lagi akan berakhir. Dibalik itu semua, mungkin saja kebahagiaannya baru dimulai. Ya, sudah lama sekali ada sesuatu yang diimpikannya. Dia baru pernah dipegang tangannya oleh Akina dan itu membuatnya senang sekali. Paling tidak, dibalik kesulitan ada cinta yang bertahan. Dia merenung sambil berbaring melihat langit-langit kamarnya. Namun tiba-tiba dia terlelap dan bermimpi aneh. Ada seorang wanita yang berteriak ketakutan sambil berkata “hentikan Ryo, tolong hentikan!!”, tidak lama kemudian wanita itu menangis.
“Kenapa? Kenapa mimpi ini lagi? Sebenarnya kamu siapa?” Ryo dalam mimpinya bertanya-tanya.
Tiba-tiba Ryo terbangun. Namun aneh. Tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Mulutnya tidak bisa berbicara, apalagi berteriak. Dalam hatinya dia berteriak.
‘IBUU….!! Kenapa ini? Aku bisa melihat saklar lampu yang ada di langit-langit. Lemari itu, meja belajar juga. Tapi sama sekali tidak bisa menggerakkan mulutku’ Ryo gelisah mencoba berteriak namun tidak bisa.
‘SACHIII, IBUUU!! TOLONG SIAPAPUN BANGUNKAN AKU!!’ Ryo mengalami keadaan stun agak lama, namun tiba-tiba dia melihat sesosok bayangan hitam di pojok kamarnya diantara lemari dan pintu kamarnya.
‘Apa? Ada hantu? Siapa kamu, jangan dekati aku!!’ Ryo berteriak dalam hati, sosoknya seperti manusia namun hantu itu agak membungkuk, tangannya lemas tertatih dan di pinggangnya seperti ada pedang. Ryo sesekali memejamkan mata dan membukanya kembali, namun sosok hitam itu tetap ada ditempat.
Setelah sekian lama pasrah, akhirnya Ryo tersadar dan terbangun dari tidur.
“Oh my god!! tadi itu apa??” Dia terbangun dan melihat sekeliling yang agak gelap dan segera menyalakan lampu kamar dengan menarik tali saklar yang ada di langit-langit.
“CEKLEK” Ryo kembali melihat ke pojok kamarnya “Mana hantu tadi, kok sudah hilang? Gila!! mengerikan sekali..” Sekujur tubuh Ryo merinding, terasa dari ubun-ubun menjalar ke tangan hingga kakinya.
“Bahkan aku takut untuk tidur kembali. Apakah ini tanda-tanda aktifnya DD (Dream Driver) yang dibicarakan oleh Akina kemarin??”
Ryo duduk diatas tempat tidur dan melihat jam yang ada di meja belajar menunjukkan pukul 11.30 malam. Dengan perasaan takut, akhirnya Ryo mengambil PSP dari tas-nya dan bermain game RPG sampai larut hingga ia tertidur.
Dalam tidurnya, Ryo kembali bermimpi aneh. Pertama, dia melihat sebuah pohon besar yang bersinar terang yang disampingnya ada bidadari kecil bersayap yang tersenyum padanya lalu tiba-tiba “FLASH” ada sinar terang yang menyilaukan. Setelah itu dia melihat seseorang yang membelakanginya sekitar 2 meter didepannya. Sosoknya sama seperti bayangan hitam tadi, namun sosok itu lebih kelihatan karena ia berada di bawah sinar bulan yang terang. Sosoknya kekar seperti manusia, dan benar sosok hitam itu membawa pedang di pinggang kirinya. Badannya masih merunduk dan dia sempat menengok ke belakang. Didalam mimpinya tadi Ryo semakin yakin bahwa ia tidak sedang tidur, ia bermimpi dalam kenyataan. Ia merasakan setiap hembusan nafasnya.


“Kak Ryoo.. bangun kak” Sachi (Saichi Sachika) adiknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP membangunkan kakaknya yang masih tertidur lelap. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi
“mmmm, ngapain.. hari ini kan libur..” Ryo hanya bergumam dan memeluk bantal gulingnya. Sementara itu Akina yang ada di belakang adiknya hanya tersenyum.
“Ini loh ada kak Akina.. katanya mau janjian main hari ini sama dia kan?”
“hah??” Muka Ryo yang tertutup bantal guling tiba-tiba kaget dan lama-lama merasa malu. Dengan muka kusutnya Ryo akhirnya duduk bersila dan tersenyum.
“Selamat ulang tahun..” Tiba-tiba Akina mengeluarkan kue ulang tahun kecil dengan lilin yang sudah menyala. Ada buah cherry merah juga diatas kue nya.
“Selamat ulang tahun Kakak..” Sachi juga memberikan ucapan selamat seolah dia sudah merencanakan semuanya dengan Akina.
“Loh kok bisa??.. T-terimakasih.. Sachi, Akina.. Tapi aku yang masih bau seperti ini sudah diberi kejutan, memalukan sekali.” Ryo tersenyum malu, ia memandang Akina dan Sachi lalu meniup lilin kue ulang tahun yang dipegang Akina.
“Namanya juga kejutan kak” Sambung Sachi.
“Sudah sana mandi, nanti aku ajak ke warung ramen” Akina mengajak dan menaruh kue ulang tahun tadi diatas meja belajar Ryo.
“Hmm kalian ada-ada saja, sudah sana tunggu di bawah, aku mau mandi dulu.. oh iya Akina soal mimpi tadi malam..”
“Ssst, sudah nanti saja..” Potong Akina sambil meninggalkan kamar Ryo.
Sewaktu Ryo mandi, Akina pun membantu ibu Ryo memasak makanan untuk sarapan pagi.
“Hmm Akina, sudah lama sekali sejak saat itu kamu main kesini ya..” Ibunya Ryo berkata sambil memotong sayuran. Akina pun membantu menaruh nasi ke magic jar.
“Iya tante, dulu sekali semenjak Sekolah Dasar aku sering bermain dengan Sachi, tapi Ryo malah bermain dengan teman-temannya..”
“Iya, dia mungkin minder bertemu dengan Akina karena kamu terlalu cantik” Ibunya Ryo memuji Akina.
“ah bisa saja tante..” Wajah Akina memerah, malu.
“Yasudah, kamu tunggu saja di ruang tamu Akina, nanti kita sarapan bersama..”
“Baik..” Akina lalu mencuci tangannya dan meninggalkan dapur.

Sejak kelas 3 SD, Akina sangat sering bermain dengan Sachi. Mereka sudah seperti kakak beradik. Saat itu, Akina dan Sachi bersama dengan teman-temannya sedang bermain petak umpet di sekitar rumah Ryo. Rumah Ryo memang lumayan besar, Ayahnya dahulu adalah seorang pelukis ternama di Negara Jepang. Hampir semua lukisannya masuk ke Museum Nasional, namun ada beberapa lukisan yang dianggap misterius dan tidak laku dijual maupun di lelang. Lukisan tersebut ada di hadapan Akina sekarang yang sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya. Ya, dia yang berumur 8 tahun berada di gudang belakang rumah Ryo.
“Wah, ini bangunan apa ya.. indah sekali..” Akina terkagum melihat lukisan bangunan aneh di dinding sambil jongkok di balik pintu gudang.
“Apa ini.. sepertinya aku pernah melihatnya.. tapi kapan?” dengan polosnya ia bertanya-tanya.
“Aduuuuh, kepalaku tiba-tiba pusing.. sakit sekali.. TOlong Akuu” Tiba-tiba Akina tergeletak dan tak sadarkan diri di gudang.
Dan sejak kejadian tersebut, Akina tidak diperbolehkan untuk bermain dirumah Ryo oleh orangtuanya karena takut kejadian tersebut terulang lagi. Karena kejadian tersebut, Akina mengalami sakit demam selama satu minggu.

“Hati-hati kakak, jaga kak Akina ya.. Awas loh..” Sachi melambaikan tangan di depan pintu gerbang rumah.
“Ya ya” Ryo membalas melambaikan tangan sambil berjalan.
“Adikmu sudah tumbuh cantik ya Ryo..”
“Ah, tidak seperti yang kamu kira..”
“Hmm, baiklah kita sekarang ke warung ramen didekat sungai. Sekalian aku perkenalkan dengan orang yang aku bicarakan kemarin”
“loh, kamu membuat janji dengan dia juga?”
“Iya sudah laah, kan agenda kita hari ini bertemu dengan orang yang mengajarimu mengolah kemampuan DD-mu.”
‘Huh, aku kira kencan’ Ryo bergumam dalam pikirannya kecewa.
“Oh iya Ryo, apakah lukisan ayahmu digudang masih ada?”
“Oh yang itu, beberapa disimpan oleh ibu di kardus, Lukisan yang indah masih menjadi pajangan di dinding gudang. Itu adalah kenang-kenangan Ayahku.”
“Huft, entah kenapa waktu itu kepalaku sakit sekali setelah melihat lukisan itu seperti ada balon yang menggelembung dan hampir pecah di kepalaku.”
“Iya, sejak saat itu kau jadi tidak boleh bermain dengan adikku lagi. Hehe.”
“Merindukan sekali yah masa lalu. Sejak saat itu aku berharap ingin bermain terus dengan Sachi”
Berbicara tentang lukisan, tiba-tiba Ryo menyeletuk dan terbayang Ayahnya.
“Iya Akina, apalagi ketika teringat Ayahku yang selalu menggendongku di punggung. Dulu aku juga sering diajak ke pameran lukisan Ayah, walaupun samar-samar tapi aku masih mengingatnya.”
“Aku juga digendong diatas kepala Ayah setiap awal tahun melihat kembang api bertaburan di langit. Memang masa lalu tidak akan pernah bisa kembali ya Akina?”
Akina berhenti berjalan karena agak kaget mendengar cerita Ryo.
“Huft, aku minta maaf soal itu Ryo.”
“He’eh, tidak apa-apa Akina. Ayahku adalah figur kebanggaanku selama ini, tetapi dia terbunuh dalam tragedi berdarah di malam tahun baru itu. Aku tidak tahu apa-apa soal pembunuhnya. Sudah aku putuskan, aku akan mencari tahu semuanya!!” Mata Ryo agak berkaca-kaca setelah menceritakan soal ayahnya, dan dia hanya tersenyum dibalik kesedihannya. Akina hanya terdiam mendengar cerita Ryo.

# # #

Pada akhirnya mereka sampai di depan warung ramen didekat sungai.
“Permisi…”
“Beli ramen murah ennaak..” Akina memesan dan mengajak Ryo duduk di bangku panjang di warung ramen kecil itu.
“Silahkan, mau pesan apa..” seorang pria dewasa menawarkan menu.
“Pesan yang ini.” Akina menunjuk menu paling bawah sambil mengatakan “1070 Start”.
“Hati-hati, selamat sampai tujuan” Pria penjual ramen itu seperti tahu kode tersebut.
“CIT CIIT” Tiba-tiba tanah membuka. Ada besi yang mengait sisi kanan dan kiri bangku yang mereka duduki. Kemudian tempat duduk mereka berdua masuk ditarik ke bawah oleh besi-besi itu dengan mulus menggantung di dinding dan ”CEKLEK” kursi mereka menempel lantai di ruangan kecil seperti lift. Ternyata memang benar, lift itu menuntun mereka jauh ke bawah tanah.
Dan akhirnya mereka sampai ke tujuan akhir, “TING TONG”. pintu lift membuka “WUSSHH”.
“Woohohoh, apa ini Akina??” Ryo melihat sebuah kota di bawah tanah, dia merasa kagum, kaget dan tidak bisa berpikir jernih karena terlalu bersemangat.
“Ini adalah ruangan rahasia organisasi kami, Gurinda. Kau juga bisa sebut ini kota”
“Gurinda itu nama ruangannya atau organisasinya?” Dengan semangatnya, Ryo berlari kecil keluar lift dan berpegangan pada pagar pembatas setinggi dada. Pagar pembatas itu sekitar 15 meter diatas kota dan mengelilingi dinding sekeliling kota.
“Huft.. tadi kan aku sudah bilang itu nama ruangannya.. Ryo bodoh..”
“Hahaha, habisnya ini terasa seperti di Visual Novel dan game RPG yang aku mainkan. Ada sebuah kota di bawah tanah dan organisasi rahasia. Keren sekali bukan?”

Tiba-tiba ada dua orang ninja melompat dari bawah, dan menyergap Ryo yang baru saja keluar lift. Dengan kedua pedangnya, satu orang ninja telah menyergap Ryo.
“Jangan bergerak.. Kau ditahan” kata ((Poko Gainichi)) seorang ninja sambil menyekap Ryo dengan sedikit menempelkan pedang pendeknya di leher Ryo.
“Eeeh” Ryo kaget dan ketakutan.
“Apa-apaan kau Sasa.. Aku sudah meminta izin ketua untuk membawa anak itu kesini..”
“Dia berbahaya Akina, aura hitam itu adalah aura terlarang. Walaupun kau jelaskan juga, aku akan mengurung anak ini sesuai dengan peraturan kota ini..” Kata ((Sasa) seorang ninja yang merupakan ketua penjaga kota.
“Betul sekali, mencegah sebelum mengobati” Poko menambahkan.
Dengan kesal, Akina mengambil sikap siap bertarung dan memperingatkan Sasa.
“Kau memang selalu seperti itu dengan kepala batumu, selalu saja menghalangi jalanku. Aku peringatkan kau minggir dari sana!!”
“Hmmh, kau mengancamku Akina? Kau ingat, aku adalah Guardian Ninja di Gurinda ini. Kau melawanku berarti kau juga melawan peraturan kota ini”
“Sudahlah Akina, aku hanya di penjara kan. Tidak apa-apa yang penting aku masih bisa bertemu denganmu.” Ryo memang ketakutan, tapi dia berusaha mengambil sikap tenang walaupun agak bingung soal kesalahan dia ataupun aura hitam apalah itu.
“Tidak seperti itu Ryo, ketika kau sudah masuk penjara. Kau pasti akan dihukum oleh hakim entah itu di potong tanganmu, kakimu ataupun kepalamu. Itu peraturan disini”
“Hahh??” Dalam sekejap, sikap tenang yang Ryo miliki pudar, mukanya memucat.  Ia pasrah.
“Hmmh, kau tidak punya alibi untuk membebaskan anak ini Akina, lagi pula anak ini juga tidak punya ID anggota, dia adalah penyusup.”
Sasa memang tidak bisa diceramahi oleh kata-kata, kemarahan Akina semakin memuncak.
“Aku tidak takut dengan peraturan kota ini, aku lebih baik mati daripada kehilangan calon rajaku… Bersiaplah Sasa, Aku sudah muak dengan kata-katamu!!”
Akina menaruh kedua tangannya di atas dada. Tiba-tiba muncul sebuah kalung di leher Akina. Lalu dia membaca mantra.
“Ancient Dream Ancient Rule of Malkuth”
Lalu kalung itu bersinar terang dan melayang di depan dada Akina.
“Bring me the power of god through dream”
Akina membuat kalungnya itu melayang dan bersinar lalu berkata.
“DRIVER!!”
“FLASH” Tubuhnya bersinar terang bagaikan dewi. Punggungnya mengeluarkan sayap yang indah bagaikan peri. Tangannya mengeluarkan tongkat sihir dan bajunya berubah menjadi seorang Magician Fairy!!


Sasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Akina.
“Apa!! Kau berani berubah disini. Baiklah akan aku layani. Poko bawa anak ini ke ruangan itu.”
“Ya, Baiklah”
“Ancient Dream Ancient Rule of Netzah, bring me the power of god through dream”
“DRIVER!!”
Sasa pun ikut berubah, Rambutnya yang sebelumnya hitam berubah warna menjadi putih dan memanjang namun masih terikat oleh ikat rambut. Pedangnya pun memanjang dan dia bisa melayang seperti melawan grafitasi.

Sementara itu, dibawah ada para penduduk kota. Semuanya keluar rumah karena kaget melihat sinar flash yang muncul seperti kilat barusan.
“Lihat-lihat, disana ada yang bertarung, mereka memakai magic. Waah, aku baru pernah melihat ini”
“Wahaha luar biasa.. ini adalah pertarungan antara pengguna DD level 4. Kemampuan supranatural yang menembus realitas ruang dan waktu, penggabungan makhluk astral dengan manusia. Mereka berdua berada di mode driver!!”
“Zervos Spinoza..” Akina langsung menyerang bertubi-tubi dengan hanya mengayunkan tongkat sihirnya, tongkatnya mengeluarkan bola berwarna biru dan meledak mengenai dinding kota. Namun Sasa selalu menghindar.
“Hmmh, kekuatanmu adalah penyerangan jarak jauh Akina, sementara kekuatanku adalah kecepatan. Jarak dekat sangat efektif dilakukan.”
“WUUSH.. WUUSH.. DUARR.. DUARR” bola-bola sihir Akina hanya dihindari oleh Sasa yang sedang terbang mendekat.
“Kyaaat” Dengan pedang panjangnya, Sasa menyerang Akina bertubi-tubi dari atas, bawah, kanan dan kiri. “SWUUNG, CRING CRING CRING CRING”
“Kyaaa…” “DUARR” Penyerangan Sasa yang bertubi-tubi menghasilkan asap karena kecepatannya yang luar biasa.
“………………………….” Keadaan diam dalam sekejap. Asap tadi sedikit menghalangi pandangan Sasa.
“ZWEI BARRINOZA” Ternyata Akina membuat sebuah pelindung seperti balon berwarna biru mengelilingi tubuhnya.
“Balon ini juga bisa meledak Sasa” “Zwei Barrinoza.. MAXX” Balon yang mengelilingi tubuh Akina membesar dengan cepatnya dan meledak diudara seperti kembang api “DUAARR”.
“Tidak mungkin..” Sasa yang masih terbang terkejut dengan serangan tiba-tiba tersebut. Jika dilihat dari bawah, ledakan tersebut besar sekali dan menimbulkan asap yang tebal.
“Hanya segitu kemampuan DD-mu Sasa??” Dibalik kabut tebal, Akina masih waspada menduga kekuatan Sasa yang lebih dari ini.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang jatuh, dilihat dari postur tubuhnya itu jelas bukan Sasa. Akina langsung terbang kebawah meraih orang tersebut. Ternyata itu Ryo!!
“Tidak mungkin.. Ryo!!” Akina dapat meraih Ryo namun ia tidak sadarkan diri. Mulutnya mengeluarkan asap dan tubuhnya hampir hitam seperti hangus.
Akina membaringnkan tubuh Ryo di tanah. Ia meneteskan air mata merasa bersalah, namun dia membantah dirinya karena satu-satunya yang salah adalah Sasa. Sasa yang menghindari pertarungan dan menyebabkan Ryo menjadi tak berdaya.
“BERANINYA KAU!!” Dengan tatapan murka, Akina menatap tajam kearah Sasa yang ada di depan lift.
“Itulah takdir seorang yang mempunyai aura terlarang Akina, kau harus menerimanya. Dia akan membahayakanmu dikemudian hari”
Kejadian sebelumnya kira-kira seperti ini.
“Zwei Barrinoza.. MAXX” Beberapa detik sebelum meledak, Sasa terbang secepat mungkin keatas, namun tidak bisa. Dengan spontan, dia menukar tubuhnya dengan tubuh Ryo yang sedang di kawal oleh Poko temannya. “Aku tidak mungkin bisa menghindar..” “Kokan No Jutsu”.

“Jika terjadi apa-apa dengan Ryo, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku!!” Kemarahan Akina memuncak, tubuhnya seperti terbakar aura biru miliknya. Ia mengeluarkan bola merah yang besar dan terus membesar di ujung tongkat sihirnya.
“Tidak, ini bahaya. Kota ini akan runtuh kalau dia menyerang dengan teknik itu. Kendalikan amarahmu Akina.” Ada seorang wanita yang mencemaskan Akina. Dia berada diantara para penduduk yang bergerombol dan memakai baju seperti dokter, juga memakai masker putih.
“Ada yang lebih bahaya lagi dari itu, lelaki yang terkapar disana. Kau harus pindahkan dia ke ruangan netral di laboratorium, dia adalah pemilik aura hitam” Pria yang berdiri disamping wanita itu lebih mencemaskan Ryo. Dia memakai baju seperti detektif, topi bundar hitam dan masker hitam. Dia adalah sang ketua organisasi penelitian ((Phidias)).
“Baiklah ketua” Wanita itu memindahkan tubuh Ryo dengan hanya membuat lingkaran sihir di bawah tubuh Ryo dari jarak jauh, lalu “TELEPHORT”. Ryo menghilang dari hadapan Akina.
“MAXIM” Akina terlanjur menghempaskan bola besar itu, namun Phidias yang telah berubah ke mode driver berteleportasi menghadang bola besar itu. Sebelum meledak ia membaca mantra.
“NETRALATION” Bola besar itu menyusut dan menghilang.
“Itu berbahaya sekali Akina. Kalian seharusnya tidak bertengkar. Aku sangat kecewa!!” Phidias sebenarnya sangat marah dengan kelakuan kedua bawahannya tersebut. Namun ia meredam amarahnya.
“Maafkan aku ketua, sebenarnya dia yang membuat aku marah. Selalu saja menghalangi”
“Hmmh, aku hanya menjalankan tugasku” Sasa menyela perkataan Akina.
Dengan tenang, Phidias turun kearah Akina.
“Dimana Ryo, Ketua?” Akina bertanya kepada Phidias.
“Dia tidak akan mati, dia dilindungi oleh makhluk astral terlarang yang ada didalam tubuhnya”
“Oh, itu yang menyebabkan dia memiliki aura hitam? Aku tidak menyadarinya sebelumnya”
“Iya, oleh sebab itu aku suruh Cleone untuk memindahkannya ke ruang netral. Kalian harus bertanggungjawab atas semua kerusakan ini, bereskan semua yang ada disini. Setelah itu pergilah menemuiku di ruang lab.”
Akina dan Sasa saling bertatap bengis seakan perlawanan mereka berdua belum berakhir.

Sementara itu, Ryo kehilangan kesadarannya. Dengan sekejap ia dikelilingi oleh aura hitam, semerbak di seluruh tubuhnya. Dengan cepat Cleone memasang kekkai pelindung di ruangan netral itu.
“Ruangan netral ini dapat mengurangi intensitas kemampuan DD, namun aku belum pernah menghadapi aura yang sekental ini. Hanya untuk berjaga-jaga”
“Ancient Dream Ancient Rule of Tiphareth. Bring me the power of God through Dream. “DRIVER” setelah masuk ke mode driver, Cleone membaca mantra “KEKKAI”
Ruangan itu memiliki dinding dengan ketebalan 5 meter, namun masih bisa di monitor dengan sihir kekkai yang dimiliki oleh Cleone.
Benar saja, tubuh Ryo yang hampir hangus itu tiba-tiba terbangun dan kepalanya menoreh kearah Cleone. Matanya merah menyala seperti iblis. Tubuhnya semakin dipenuhi aura hitam kejahatan. Ryo jahat lalu berdiri dan berteriak sekeras kerasnya sampai mulutnya terbuka lebar seperti mau sobek “WAAAAAAAAA”. Ia berubah menjadi sosok hitam kekar menyeramkan, juga memiliki pedang di pinggang kirinya
“AAAAARGHHH” “CRING-CRING, SRETT, CRING-CRING”
Dengan kecepatan tingkat tinggi, Ryo jahat mengaum dan menebas seluruh dinding ruangan bertubi-tubi. Cleone sampai tidak bisa melihat gerakannya dan hanya melihat dinding yang tertebas-tebas.
“Tidak mungkin, apakah peredam aura itu tidak mempan terhadap makhluk ini?”
“Ketua melakukan penelitian yang berbahaya sekali..”
“Oh tidak, kalau begini terus kekkai-nya akan hancur..” Seorang anggota laboratorium sangat ketakutan.
“Siapa saja, cepat evakuasi penduduk Gurinda ke DOOM!!” Kata Cleone.
“AAAAAARGHHH”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar