(Aura)
Setelah
berlarian dengan Akina menghindari pemanah misterius tadi siang, malam ini Ryo
merenung di kamar dan membayangkan tentang kehidupannya yang damai sebentar
lagi akan berakhir. Dibalik itu semua, mungkin saja kebahagiaannya baru dimulai.
Ya, sudah lama sekali ada sesuatu yang diimpikannya. Dia baru pernah dipegang
tangannya oleh Akina dan itu membuatnya senang sekali. Paling tidak, dibalik kesulitan
ada cinta yang bertahan. Dia merenung sambil berbaring melihat langit-langit
kamarnya. Namun tiba-tiba dia terlelap dan bermimpi aneh. Ada seorang wanita
yang berteriak ketakutan sambil berkata “hentikan Ryo, tolong hentikan!!”,
tidak lama kemudian wanita itu menangis.
“Kenapa?
Kenapa mimpi ini lagi? Sebenarnya kamu siapa?” Ryo dalam mimpinya
bertanya-tanya.
Tiba-tiba
Ryo terbangun. Namun aneh. Tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Mulutnya tidak bisa
berbicara, apalagi berteriak. Dalam hatinya dia berteriak.
‘IBUU….!!
Kenapa ini? Aku bisa melihat saklar lampu yang ada di langit-langit. Lemari
itu, meja belajar juga. Tapi sama sekali tidak bisa menggerakkan mulutku’ Ryo
gelisah mencoba berteriak namun tidak bisa.
‘SACHIII,
IBUUU!! TOLONG SIAPAPUN BANGUNKAN AKU!!’ Ryo mengalami keadaan stun agak lama,
namun tiba-tiba dia melihat sesosok bayangan hitam di pojok kamarnya diantara
lemari dan pintu kamarnya.
‘Apa?
Ada hantu? Siapa kamu, jangan dekati aku!!’ Ryo berteriak dalam hati, sosoknya
seperti manusia namun hantu itu agak membungkuk, tangannya lemas tertatih dan
di pinggangnya seperti ada pedang. Ryo sesekali memejamkan mata dan membukanya
kembali, namun sosok hitam itu tetap ada ditempat.
Setelah
sekian lama pasrah, akhirnya Ryo tersadar dan terbangun dari tidur.
“Oh my
god!! tadi itu apa??” Dia terbangun dan melihat sekeliling yang agak gelap dan
segera menyalakan lampu kamar dengan menarik tali saklar yang ada di
langit-langit.
“CEKLEK”
Ryo kembali melihat ke pojok kamarnya “Mana hantu tadi, kok sudah hilang? Gila!!
mengerikan sekali..” Sekujur tubuh Ryo merinding, terasa dari ubun-ubun menjalar
ke tangan hingga kakinya.
“Bahkan
aku takut untuk tidur kembali. Apakah ini tanda-tanda aktifnya DD (Dream
Driver) yang dibicarakan oleh Akina kemarin??”
Ryo
duduk diatas tempat tidur dan melihat jam yang ada di meja belajar menunjukkan
pukul 11.30 malam. Dengan perasaan takut, akhirnya Ryo mengambil PSP dari tas-nya
dan bermain game RPG sampai larut hingga ia tertidur.
Dalam
tidurnya, Ryo kembali bermimpi aneh. Pertama, dia melihat sebuah pohon besar
yang bersinar terang yang disampingnya ada bidadari kecil bersayap yang
tersenyum padanya lalu tiba-tiba “FLASH” ada sinar terang yang menyilaukan.
Setelah itu dia melihat seseorang yang membelakanginya sekitar 2 meter
didepannya. Sosoknya sama seperti bayangan hitam tadi, namun sosok itu lebih
kelihatan karena ia berada di bawah sinar bulan yang terang. Sosoknya kekar
seperti manusia, dan benar sosok hitam itu membawa pedang di pinggang kirinya. Badannya
masih merunduk dan dia sempat menengok ke belakang. Didalam mimpinya tadi Ryo semakin
yakin bahwa ia tidak sedang tidur, ia bermimpi dalam kenyataan. Ia merasakan
setiap hembusan nafasnya.
“Kak
Ryoo.. bangun kak” Sachi (Saichi Sachika) adiknya yang masih duduk di bangku
kelas 2 SMP membangunkan kakaknya yang masih tertidur lelap. Padahal waktu sudah
menunjukkan pukul 07.00 pagi
“mmmm,
ngapain.. hari ini kan libur..” Ryo hanya bergumam dan memeluk bantal
gulingnya. Sementara itu Akina yang ada di belakang adiknya hanya tersenyum.
“Ini
loh ada kak Akina.. katanya mau janjian main hari ini sama dia kan?”
“hah??”
Muka Ryo yang tertutup bantal guling tiba-tiba kaget dan lama-lama merasa malu.
Dengan muka kusutnya Ryo akhirnya duduk bersila dan tersenyum.
“Selamat
ulang tahun..” Tiba-tiba Akina mengeluarkan kue ulang tahun kecil dengan lilin
yang sudah menyala. Ada buah cherry merah juga diatas kue nya.
“Selamat
ulang tahun Kakak..” Sachi juga memberikan ucapan selamat seolah dia sudah
merencanakan semuanya dengan Akina.
“Loh
kok bisa??.. T-terimakasih.. Sachi, Akina.. Tapi aku yang masih bau seperti ini
sudah diberi kejutan, memalukan sekali.” Ryo tersenyum malu, ia memandang Akina
dan Sachi lalu meniup lilin kue ulang tahun yang dipegang Akina.
“Namanya
juga kejutan kak” Sambung Sachi.
“Sudah
sana mandi, nanti aku ajak ke warung ramen” Akina mengajak dan menaruh kue
ulang tahun tadi diatas meja belajar Ryo.
“Hmm
kalian ada-ada saja, sudah sana tunggu di bawah, aku mau mandi dulu.. oh iya
Akina soal mimpi tadi malam..”
“Ssst,
sudah nanti saja..” Potong Akina sambil meninggalkan kamar Ryo.
Sewaktu
Ryo mandi, Akina pun membantu ibu Ryo memasak makanan untuk sarapan pagi.
“Hmm
Akina, sudah lama sekali sejak saat itu kamu main kesini ya..” Ibunya Ryo
berkata sambil memotong sayuran. Akina pun membantu menaruh nasi ke magic jar.
“Iya
tante, dulu sekali semenjak Sekolah Dasar aku sering bermain dengan Sachi, tapi
Ryo malah bermain dengan teman-temannya..”
“Iya,
dia mungkin minder bertemu dengan Akina karena kamu terlalu cantik” Ibunya Ryo
memuji Akina.
“ah
bisa saja tante..” Wajah Akina memerah, malu.
“Yasudah,
kamu tunggu saja di ruang tamu Akina, nanti kita sarapan bersama..”
“Baik..”
Akina lalu mencuci tangannya dan meninggalkan dapur.
Sejak
kelas 3 SD, Akina sangat sering bermain dengan Sachi. Mereka sudah seperti
kakak beradik. Saat itu, Akina dan Sachi bersama dengan teman-temannya sedang
bermain petak umpet di sekitar rumah Ryo. Rumah Ryo memang lumayan besar,
Ayahnya dahulu adalah seorang pelukis ternama di Negara Jepang. Hampir semua
lukisannya masuk ke Museum Nasional, namun ada beberapa lukisan yang dianggap
misterius dan tidak laku dijual maupun di lelang. Lukisan tersebut ada di
hadapan Akina sekarang yang sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya.
Ya, dia yang berumur 8 tahun berada di gudang belakang rumah Ryo.
“Wah,
ini bangunan apa ya.. indah sekali..” Akina terkagum melihat lukisan bangunan aneh
di dinding sambil jongkok di balik pintu gudang.
“Apa
ini.. sepertinya aku pernah melihatnya.. tapi kapan?” dengan polosnya ia
bertanya-tanya.
“Aduuuuh,
kepalaku tiba-tiba pusing.. sakit sekali.. TOlong Akuu” Tiba-tiba Akina
tergeletak dan tak sadarkan diri di gudang.
Dan
sejak kejadian tersebut, Akina tidak diperbolehkan untuk bermain dirumah Ryo
oleh orangtuanya karena takut kejadian tersebut terulang lagi. Karena kejadian
tersebut, Akina mengalami sakit demam selama satu minggu.
“Hati-hati
kakak, jaga kak Akina ya.. Awas loh..” Sachi melambaikan tangan di depan pintu
gerbang rumah.
“Ya ya”
Ryo membalas melambaikan tangan sambil berjalan.
“Adikmu
sudah tumbuh cantik ya Ryo..”
“Ah,
tidak seperti yang kamu kira..”
“Hmm,
baiklah kita sekarang ke warung ramen didekat sungai. Sekalian aku perkenalkan
dengan orang yang aku bicarakan kemarin”
“loh,
kamu membuat janji dengan dia juga?”
“Iya
sudah laah, kan agenda kita hari ini bertemu dengan orang yang mengajarimu
mengolah kemampuan DD-mu.”
‘Huh,
aku kira kencan’ Ryo bergumam dalam pikirannya kecewa.
“Oh iya
Ryo, apakah lukisan ayahmu digudang masih ada?”
“Oh
yang itu, beberapa disimpan oleh ibu di kardus, Lukisan yang indah masih
menjadi pajangan di dinding gudang. Itu adalah kenang-kenangan Ayahku.”
“Huft,
entah kenapa waktu itu kepalaku sakit sekali setelah melihat lukisan itu
seperti ada balon yang menggelembung dan hampir pecah di kepalaku.”
“Iya,
sejak saat itu kau jadi tidak boleh bermain dengan adikku lagi. Hehe.”
“Merindukan
sekali yah masa lalu. Sejak saat itu aku berharap ingin bermain terus dengan
Sachi”
Berbicara
tentang lukisan, tiba-tiba Ryo menyeletuk dan terbayang Ayahnya.
“Iya
Akina, apalagi ketika teringat Ayahku yang selalu menggendongku di punggung.
Dulu aku juga sering diajak ke pameran lukisan Ayah, walaupun samar-samar tapi
aku masih mengingatnya.”
“Aku
juga digendong diatas kepala Ayah setiap awal tahun melihat kembang api bertaburan
di langit. Memang masa lalu tidak akan pernah bisa kembali ya Akina?”
Akina
berhenti berjalan karena agak kaget mendengar cerita Ryo.
“Huft,
aku minta maaf soal itu Ryo.”
“He’eh,
tidak apa-apa Akina. Ayahku adalah figur kebanggaanku selama ini, tetapi dia terbunuh
dalam tragedi berdarah di malam tahun baru itu. Aku tidak tahu apa-apa soal pembunuhnya.
Sudah aku putuskan, aku akan mencari tahu semuanya!!” Mata Ryo agak berkaca-kaca
setelah menceritakan soal ayahnya, dan dia hanya tersenyum dibalik
kesedihannya. Akina hanya terdiam mendengar cerita Ryo.
# # #
Pada akhirnya
mereka sampai di depan warung ramen didekat sungai.
“Permisi…”
“Beli
ramen murah ennaak..” Akina memesan dan mengajak Ryo duduk di bangku panjang di
warung ramen kecil itu.
“Silahkan,
mau pesan apa..” seorang pria dewasa menawarkan menu.
“Pesan
yang ini.” Akina menunjuk menu paling bawah sambil mengatakan “1070 Start”.
“Hati-hati,
selamat sampai tujuan” Pria penjual ramen itu seperti tahu kode tersebut.
“CIT
CIIT” Tiba-tiba tanah membuka. Ada besi yang mengait sisi kanan dan kiri bangku
yang mereka duduki. Kemudian tempat duduk mereka berdua masuk ditarik ke bawah oleh
besi-besi itu dengan mulus menggantung di dinding dan ”CEKLEK” kursi mereka menempel
lantai di ruangan kecil seperti lift. Ternyata memang benar, lift itu menuntun
mereka jauh ke bawah tanah.
Dan akhirnya
mereka sampai ke tujuan akhir, “TING TONG”. pintu lift membuka “WUSSHH”.
“Woohohoh,
apa ini Akina??” Ryo melihat sebuah kota di bawah tanah, dia merasa kagum, kaget
dan tidak bisa berpikir jernih karena terlalu bersemangat.
“Ini
adalah ruangan rahasia organisasi kami, Gurinda. Kau juga bisa sebut ini kota”
“Gurinda
itu nama ruangannya atau organisasinya?” Dengan semangatnya, Ryo berlari kecil
keluar lift dan berpegangan pada pagar pembatas setinggi dada. Pagar pembatas
itu sekitar 15 meter diatas kota dan mengelilingi dinding sekeliling kota.
“Huft..
tadi kan aku sudah bilang itu nama ruangannya.. Ryo bodoh..”
“Hahaha,
habisnya ini terasa seperti di Visual Novel dan game RPG yang aku mainkan. Ada
sebuah kota di bawah tanah dan organisasi rahasia. Keren sekali bukan?”
Tiba-tiba
ada dua orang ninja melompat dari bawah, dan menyergap Ryo yang baru saja
keluar lift. Dengan kedua pedangnya, satu orang ninja telah menyergap Ryo.
“Jangan
bergerak.. Kau ditahan” kata ((Poko Gainichi)) seorang ninja sambil menyekap
Ryo dengan sedikit menempelkan pedang pendeknya di leher Ryo.
“Eeeh”
Ryo kaget dan ketakutan.
“Apa-apaan
kau Sasa.. Aku sudah meminta izin ketua untuk membawa anak itu kesini..”
“Dia
berbahaya Akina, aura hitam itu adalah aura terlarang. Walaupun kau jelaskan
juga, aku akan mengurung anak ini sesuai dengan peraturan kota ini..” Kata
((Sasa) seorang ninja yang merupakan ketua penjaga kota.
“Betul
sekali, mencegah sebelum mengobati” Poko menambahkan.
Dengan
kesal, Akina mengambil sikap siap bertarung dan memperingatkan Sasa.
“Kau
memang selalu seperti itu dengan kepala batumu, selalu saja menghalangi
jalanku. Aku peringatkan kau minggir dari sana!!”
“Hmmh,
kau mengancamku Akina? Kau ingat, aku adalah Guardian Ninja di Gurinda ini. Kau
melawanku berarti kau juga melawan peraturan kota ini”
“Sudahlah
Akina, aku hanya di penjara kan. Tidak apa-apa yang penting aku masih bisa bertemu
denganmu.” Ryo memang ketakutan, tapi dia berusaha mengambil sikap tenang
walaupun agak bingung soal kesalahan dia ataupun aura hitam apalah itu.
“Tidak
seperti itu Ryo, ketika kau sudah masuk penjara. Kau pasti akan dihukum oleh
hakim entah itu di potong tanganmu, kakimu ataupun kepalamu. Itu peraturan
disini”
“Hahh??”
Dalam sekejap, sikap tenang yang Ryo miliki pudar, mukanya memucat. Ia pasrah.
“Hmmh,
kau tidak punya alibi untuk membebaskan anak ini Akina, lagi pula anak ini juga
tidak punya ID anggota, dia adalah penyusup.”
Sasa
memang tidak bisa diceramahi oleh kata-kata, kemarahan Akina semakin memuncak.
“Aku
tidak takut dengan peraturan kota ini, aku lebih baik mati daripada kehilangan
calon rajaku… Bersiaplah Sasa, Aku sudah muak dengan kata-katamu!!”
Akina
menaruh kedua tangannya di atas dada. Tiba-tiba muncul sebuah kalung di leher
Akina. Lalu dia membaca mantra.
“Ancient
Dream Ancient Rule of Malkuth”
Lalu
kalung itu bersinar terang dan melayang di depan dada Akina.
“Bring
me the power of god through dream”
Akina
membuat kalungnya itu melayang dan bersinar lalu berkata.
“DRIVER!!”
“FLASH”
Tubuhnya bersinar terang bagaikan dewi. Punggungnya mengeluarkan sayap yang
indah bagaikan peri. Tangannya mengeluarkan tongkat sihir dan bajunya berubah menjadi
seorang Magician Fairy!!
Sasa
tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Akina.
“Apa!!
Kau berani berubah disini. Baiklah akan aku layani. Poko bawa anak ini ke
ruangan itu.”
“Ya, Baiklah”
“Ancient
Dream Ancient Rule of Netzah, bring me the power of god through dream”
“DRIVER!!”
Sasa
pun ikut berubah, Rambutnya yang sebelumnya hitam berubah warna menjadi putih
dan memanjang namun masih terikat oleh ikat rambut. Pedangnya pun memanjang dan
dia bisa melayang seperti melawan grafitasi.
Sementara
itu, dibawah ada para penduduk kota. Semuanya keluar rumah karena kaget melihat
sinar flash yang muncul seperti kilat barusan.
“Lihat-lihat,
disana ada yang bertarung, mereka memakai magic. Waah, aku baru pernah melihat
ini”
“Wahaha
luar biasa.. ini adalah pertarungan antara pengguna DD level 4. Kemampuan
supranatural yang menembus realitas ruang dan waktu, penggabungan makhluk
astral dengan manusia. Mereka berdua berada di mode driver!!”
“Zervos
Spinoza..” Akina langsung menyerang bertubi-tubi dengan hanya mengayunkan
tongkat sihirnya, tongkatnya mengeluarkan bola berwarna biru dan meledak
mengenai dinding kota. Namun Sasa selalu menghindar.
“Hmmh, kekuatanmu
adalah penyerangan jarak jauh Akina, sementara kekuatanku adalah kecepatan.
Jarak dekat sangat efektif dilakukan.”
“WUUSH..
WUUSH.. DUARR.. DUARR” bola-bola sihir Akina hanya dihindari oleh Sasa yang
sedang terbang mendekat.
“Kyaaat”
Dengan pedang panjangnya, Sasa menyerang Akina bertubi-tubi dari atas, bawah,
kanan dan kiri. “SWUUNG, CRING CRING CRING CRING”
“Kyaaa…”
“DUARR” Penyerangan Sasa yang bertubi-tubi menghasilkan asap karena
kecepatannya yang luar biasa.
“………………………….”
Keadaan diam dalam sekejap. Asap tadi sedikit menghalangi pandangan Sasa.
“ZWEI
BARRINOZA” Ternyata Akina membuat sebuah pelindung seperti balon berwarna biru
mengelilingi tubuhnya.
“Balon
ini juga bisa meledak Sasa” “Zwei Barrinoza.. MAXX” Balon yang mengelilingi
tubuh Akina membesar dengan cepatnya dan meledak diudara seperti kembang api
“DUAARR”.
“Tidak
mungkin..” Sasa yang masih terbang terkejut dengan serangan tiba-tiba tersebut.
Jika dilihat dari bawah, ledakan tersebut besar sekali dan menimbulkan asap
yang tebal.
“Hanya
segitu kemampuan DD-mu Sasa??” Dibalik kabut tebal, Akina masih waspada menduga
kekuatan Sasa yang lebih dari ini.
Namun tiba-tiba
ada seseorang yang jatuh, dilihat dari postur tubuhnya itu jelas bukan Sasa.
Akina langsung terbang kebawah meraih orang tersebut. Ternyata itu Ryo!!
“Tidak
mungkin.. Ryo!!” Akina dapat meraih Ryo namun ia tidak sadarkan diri. Mulutnya
mengeluarkan asap dan tubuhnya hampir hitam seperti hangus.
Akina
membaringnkan tubuh Ryo di tanah. Ia meneteskan air mata merasa bersalah, namun
dia membantah dirinya karena satu-satunya yang salah adalah Sasa. Sasa yang menghindari
pertarungan dan menyebabkan Ryo menjadi tak berdaya.
“BERANINYA
KAU!!” Dengan tatapan murka, Akina menatap tajam kearah Sasa yang ada di depan
lift.
“Itulah
takdir seorang yang mempunyai aura terlarang Akina, kau harus menerimanya. Dia
akan membahayakanmu dikemudian hari”
Kejadian
sebelumnya kira-kira seperti ini.
“Zwei
Barrinoza.. MAXX” Beberapa detik sebelum meledak, Sasa terbang secepat mungkin
keatas, namun tidak bisa. Dengan spontan, dia menukar tubuhnya dengan tubuh Ryo
yang sedang di kawal oleh Poko temannya. “Aku tidak mungkin bisa menghindar..” “Kokan
No Jutsu”.
“Jika
terjadi apa-apa dengan Ryo, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku!!”
Kemarahan Akina memuncak, tubuhnya seperti terbakar aura biru miliknya. Ia
mengeluarkan bola merah yang besar dan terus membesar di ujung tongkat
sihirnya.
“Tidak,
ini bahaya. Kota ini akan runtuh kalau dia menyerang dengan teknik itu.
Kendalikan amarahmu Akina.” Ada seorang wanita yang mencemaskan Akina. Dia
berada diantara para penduduk yang bergerombol dan memakai baju seperti dokter,
juga memakai masker putih.
“Ada
yang lebih bahaya lagi dari itu, lelaki yang terkapar disana. Kau harus
pindahkan dia ke ruangan netral di laboratorium, dia adalah pemilik aura hitam”
Pria yang berdiri disamping wanita itu lebih mencemaskan Ryo. Dia memakai baju
seperti detektif, topi bundar hitam dan masker hitam. Dia adalah sang ketua
organisasi penelitian ((Phidias)).
“Baiklah
ketua” Wanita itu memindahkan tubuh Ryo dengan hanya membuat lingkaran sihir di
bawah tubuh Ryo dari jarak jauh, lalu “TELEPHORT”. Ryo menghilang dari hadapan
Akina.
“MAXIM”
Akina terlanjur menghempaskan bola besar itu, namun Phidias yang telah berubah
ke mode driver berteleportasi menghadang bola besar itu. Sebelum meledak ia
membaca mantra.
“NETRALATION”
Bola besar itu menyusut dan menghilang.
“Itu
berbahaya sekali Akina. Kalian seharusnya tidak bertengkar. Aku sangat kecewa!!”
Phidias sebenarnya sangat marah dengan kelakuan kedua bawahannya tersebut.
Namun ia meredam amarahnya.
“Maafkan
aku ketua, sebenarnya dia yang membuat aku marah. Selalu saja menghalangi”
“Hmmh,
aku hanya menjalankan tugasku” Sasa menyela perkataan Akina.
Dengan
tenang, Phidias turun kearah Akina.
“Dimana
Ryo, Ketua?” Akina bertanya kepada Phidias.
“Dia
tidak akan mati, dia dilindungi oleh makhluk astral terlarang yang ada didalam
tubuhnya”
“Oh, itu
yang menyebabkan dia memiliki aura hitam? Aku tidak menyadarinya sebelumnya”
“Iya,
oleh sebab itu aku suruh Cleone untuk memindahkannya ke ruang netral. Kalian harus
bertanggungjawab atas semua kerusakan ini, bereskan semua yang ada disini. Setelah
itu pergilah menemuiku di ruang lab.”
Akina dan Sasa saling bertatap bengis seakan
perlawanan mereka berdua belum berakhir.
Sementara
itu, Ryo kehilangan kesadarannya. Dengan sekejap ia dikelilingi oleh aura
hitam, semerbak di seluruh tubuhnya. Dengan cepat Cleone memasang kekkai
pelindung di ruangan netral itu.
“Ruangan
netral ini dapat mengurangi intensitas kemampuan DD, namun aku belum pernah
menghadapi aura yang sekental ini. Hanya untuk berjaga-jaga”
“Ancient
Dream Ancient Rule of Tiphareth. Bring me the power of God through Dream. “DRIVER”
setelah masuk ke mode driver, Cleone membaca mantra “KEKKAI”
Ruangan
itu memiliki dinding dengan ketebalan 5 meter, namun masih bisa di monitor
dengan sihir kekkai yang dimiliki oleh Cleone.
Benar
saja, tubuh Ryo yang hampir hangus itu tiba-tiba terbangun dan kepalanya menoreh
kearah Cleone. Matanya merah menyala seperti iblis. Tubuhnya semakin dipenuhi
aura hitam kejahatan. Ryo jahat lalu berdiri dan berteriak sekeras kerasnya
sampai mulutnya terbuka lebar seperti mau sobek “WAAAAAAAAA”. Ia berubah
menjadi sosok hitam kekar menyeramkan, juga memiliki pedang di pinggang kirinya
“AAAAARGHHH”
“CRING-CRING, SRETT, CRING-CRING”
Dengan
kecepatan tingkat tinggi, Ryo jahat mengaum dan menebas seluruh dinding ruangan
bertubi-tubi. Cleone sampai tidak bisa melihat gerakannya dan hanya melihat
dinding yang tertebas-tebas.
“Tidak
mungkin, apakah peredam aura itu tidak mempan terhadap makhluk ini?”
“Ketua
melakukan penelitian yang berbahaya sekali..”
“Oh
tidak, kalau begini terus kekkai-nya akan hancur..” Seorang anggota
laboratorium sangat ketakutan.
“Siapa
saja, cepat evakuasi penduduk Gurinda ke DOOM!!” Kata Cleone.
“AAAAAARGHHH”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar